Kapolres Di Kejar & Dipegangi Tangannya Oleh Seorang Ibu Yang Menuntut Keadilan

60

TW (43), ibu dua putri yang mengalami perjuangan yang panjang untuk kedua putrinya

Cilacap – suaraaksirakyat.com

Halaman Polresta Cilacap geger. Seorang ibu mengejar Kapolres Cilacap saat beliau hendak keluar. Kejadian pada Selasa, 30 April 2024 itu menorehkan trenyuh saat semua melihatnya. Sang ibu meraih dan memegangi tangan Kapolres sambil menangis histeris dan memohonkan keadilan bagi kedua putri kecilnya yang mengalami pencabulan hingga masa depan mereka hancur. Ibu ini menuntut agar diberikan keadilan dan kebebasan dari ancaman para predator putri-putrinya. semoga ada jalan keluar dan bantuan dari Kapolres untuk memenjarakan para predator anak ini yang diketahui bukan satu dua kali melakukan perbuatan laknat itu. Tidak dipungkiri akan adanya kemungkinan korban-korban baru berjatuhan jika para pelaku tidak dihentikan dan hanya meminta maaf tanpa ada solusi hukum yang mengganjar perbuatan mereka. (11/5/2024)

TW (43), ibu dua putri yang mengalami perjuangan yang panjang untuk kedua putrinya selama ini, berkali-kali melaporkan pencabulan yang dilakukan para predator anak tersebut. Adapun perjuangan panjangnya ini belum membuahkan hasil. Harapannya Kapolres Cilacap menanggapi dan segera melakukan penindakan tegas dengan memenjarakan mereka. Korban sebelumnya tak mampu berbuat dan kini ia tak kan membiarkan para pelaku bebas melakukan aksi bejadnya kepada anak-anak kecil di bawah umur. Harapannya semua melihat apa yang diperjuangkannya adalah masa depan kedua putrinya dan tak ingin korban baru berjatuhan dan bungkam seperti yang lalu-lalu. Ia bukanlah si kaya. Hanyalah rakyat miskin yang melihat ada pembiaran atas perbuatan pelaku selama ini di kampungnya dimana ia tinggal. Sempat di kira orang gila atas usahanya memperjuangkan keadilan di tengah bungkamnya para korban sebelumnya.

Apapun ia lakukan demi semua yang terjadi kepada kedua putrinya tak terulang minimal di desanya atau dimanapun juga. Pertanyaan dalam hatinya adalah, adakah hukum berpihak kepadanya karena kemiskinan seringkali membuat perjuangannya terhalang. Namun ia bertekad untuk tak berhenti hingga keadilan diberikan kepada kedua putrinya. Hingga saat ini TW hanya menemui jalan buntu. Putrinya yang saat ini berusia 5 dan 7 tahun hingga kini masih mengalami pencabulan. Pernah ia laporkan pencabulan yang dilakukan predator anak tersebut malah di SP3 Polresta Cilacap. Putri bungsunya pada 2 tahun yang lalu pun juga mengalaminya dan pelakunya tetangganya sendiri. Usianya saat itu juga sama dengan kakaknya saat dicabuli yaitu usia 2 tahun. Hal ini telah dilaporkan dan di sidangkan di kantor Balai Desa disaksikan anggota Polsek Kawungeten dan perangkat desa setempat. Pelaku mengakuinya namun setelah itu kasus buram, TW akhirnya lapor ke PPA pusat Jakarta.

Belum selesai. Putri pertamanya pun kembali di cabuli pada Jumat (26/4/2024).

“Aku di suruh bunda ambil kertas di ruang tamu. Aku di tarik A dan di paksa. Celanaku di buka oleh A terus digituin, ” ucap korban lirih.

“Ya benar saat itu Saya sedang di kamar mengerjakan keterampilan tangan anak Saya itu. Kok lama. Curiga lah. Saya hampiri anak Saya dan pelaku wajahnya kesal. Tapi anak Saya kok tidak nangis.” Sambung TW.

Dokter periksa memberi keterangan saat team awak media melalui telefon mencari informasi.

“Korban mengalami trauma benda tumpul. Luka bernanah di area intim pada arah jarum jam 9, 3, 6. Saat itu kita kedatangan ibu yang bawa 2 putrinya. Sudah di periksa di beri obat. Saya sarankan untuk lapor dan periksakan anak ke dr. SP OG. Kasihan area “V” nya juga ada bercak nanah arah jam 11 dan 1.” Ungkap dokter.

Keterangan Kades saat dihubungi memberikan penjelasan kepada awak media bahwa kejadian sudah lama.

“Sudah lama di 2019 tetangganya dilaporkan. Kemudian keponakannya. Semua sudah di panggil. Pelakunya dikenai wajib lapor. TW juga lapor PPA hingga turunlah PPA Kabupaten dan Provinsi. Mereka kerumahnya dan TW melaporkan suaminya. Semingguan lalu dia melaporkan lagi. Saya beri surat. Namun kelanjutannya saya tak tahu. Sempat Saya di undang ke Polresta Cilacap, Kadus sudah di telepon setelah TW mendatangi Polres. Saya bahkan pulang sore, monggo jika Saya di periksa. Saya ini malu TW jika bicara bikin malu, semua disalahkan. Mengenai sidang di Balai Desa itu benar. Sudah lama sebelum Saya jadi Kades. Tak ditangani di desa tapi sudah ke Polres. Sejak Saya jadi Kades tak pernah lagi dilaporkan ke desa, ke Polsek atau Polres. Bukannya tak ada penanganannya. Itu tak benar. TW mengejar Kapolres itu juga benar dan terjadi saat Kapolres hendak keluar.” Kata Kades.

TW mengatakan Kadus sempat menawari uang damai tapi ia menolak.

“Saya tolak, tidak mau. Terserah kalau yang lain mau itu urusan mereka. Sampai mati Saya tidak menerima anak Saya diperlakukan begitu”, ujarnya.

Saya laporkan berkali-kali tak ada keadilan. Saya ingin pelaku semua diadili dipenjarakan. Saya miskin tak mampu bayar Polisi tapi pelaku banyak uang. Polisinya pernah bilang ngapain ibu mau lapor apalagi kan TY sudah minta maaf dan janji tak mengulanginya lagi. Dulu saja mereka pernah mencongkel jendela rumah saya. Ada polisi. Saya lagi di periksa PPA dan Polisi. Ada perangkat desa juga, apa yang mereka cari sampai kamar Saya acak-acakan sepulang dari RSUD Banyumas di kira gila.” Cetus TW.

Kepada lembaga terkait TW menaruh harapan besar atas perjuangannya agar keadilan hadir di hidup putri-putrinya. Anak usia di bawah umur ada dalam perlindungan negara. Bagaimana aparatur negara terkait dapat menyelesaikannya.

 

Pewarta : Team DG/IS