Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono
Jakarta,-
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono mengucapkan terima kasih atas saran dan kritik yang diberikan mengenai bagaimana Presiden Prabowo Subianto menjalankan politik luar negeri sejauh ini.
Termasuk saran dan kritik yang diutarakan Dino Patti Djalal beberapa waktu lalu.
Menlu Sugiono menyatakan tiap saran dan kritik yang bertujuan untuk perbaikan itu baik asal didasari fakta dan data yang akurat.
“Saya kira semua saran, semua kritik dalam langkah perbaikan itu bagus, baik. Tentu saja harus konstruktif, tentu saja juga harus berdasarkan pada fakta-fakta dan data-data yang akurat,” ucap Menlu Sugiono di Kantor Kemlu RI, Jakarta, Rabu (03/06/2026).
Menlu Sugiono menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto selama ini menjalankan mandat yang tersurat dalam konstitusi UUD 1945 bahwa Indonesia adalah bagian dari pergaulan internasional.
Maka dari itu, untuk menjalankan amanat UUD 1945 tersebut, Indonesia harus hadir dalam pergaulan internasional sebagai bagian dari pergaulan internasional.
“Indonesia merupakan bagian dari pergaulan internasional, bagian dari masyarakat dunia dan ini menuntut suatu kehadiran di dunia internasional,” ucapnya.
Sejak awal menjabat, lanjut Menlu, Presiden Prabowo memegang prinsip seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Indonesia tetap menjadi negara yang netral atau tidak berpihak ke poros manapun.
Hal itu diimplementasikan dengan kehadiran Indonesia di banyak tempat. Indonesia perlu melakukan itu karena dalam berprinsip berkawan dengan semua.
“Kita harus berkawan dengan semuanya, istilahnya kan kita harus gaul dan semua itu direncanakan dengan baik, semua itu didahului oleh diskusi diplomatik yang baik. Jadi Presiden menentukan, kita kasih saran, substansi-substansi dan prioritas yang perlu dibahas,” ucapnya.
Menlu Sugiono menyampaikan bahwa kondisi global saat ini sedang dalam keadaan yang tidak biasa. Oleh karena itu, tidak selalu bisa menjalankan diplomasi dengan cara yang biasa.
“Terkait juga dengan perkembangan dan dinamika yang terjadi saat ini, yang tidak bisa mengikuti jalur-jalur konvensional karena situasinya juga tidak biasa. Timur-tengah perang, banyak juga beberapa titik di dunia ini yang panas,” ucapnya.
Menlu Sugiono mengatakan pertemuan langsung antar kepala negara atau kepala pemerintahan pun perlu dilakukan. Kedekatan personal antar kepala pemerintahan bisa terbangun melalui pertemuan langsung yang berimplikasi juga pada hubungan baik antarnegara.
“Sama seperti kita juga kan. Kalau telepon-telepon saja kan beda dengan bertemu langsung. Kita bisa melihat bahasa tubuh, ada kedekatan personal. Dari situ kita bisa berbicara mengenai hal yang lebih banyak. Intinya itu,” ucap Menlu.
Didi S







