Siswa SMKS 17 Apresiasi Program MBG: Harap Bisa Berlanjut Jangka Panjang

20

Siswa SMKS 17 Cilegon

CILEGON – suaraaksirakyat.com

Penerapan Program Makanan Bergizi (MBG) di SMKS 17 Kota Cilegon mendapat sambutan positif dari pihak sekolah maupun peserta didik. Kehadiran program ini dinilai mampu mendorong pola makan sehat sekaligus mengurangi ketergantungan siswa pada jajanan instan.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKS 17, Nazar Karami, menuturkan bahwa MBG menjadi terobosan penting dalam mengarahkan kebiasaan makan siswa ke arah yang lebih sehat.

“Selama ini anak-anak lebih suka jajanan cepat saji seperti seblak atau mie instan. Kalau sesekali tidak masalah, tapi jika terus-menerus tentu bisa berisiko bagi kesehatan. Dengan adanya program ini, mereka jadi terbiasa mengonsumsi makanan yang lebih bergizi,” ujarnya.

Nazar menambahkan, antusiasme siswa terlihat jelas dari tingginya minat setiap kali jam makan tiba. “Bahkan sering kali saat jam istirahat mereka bertanya, ‘Pak, makanannya dibagikan jam berapa?’ Itu artinya mereka menunggu-nunggu,” tambahnya.

Mengenai menu, Nazar menilai sudah cukup seimbang dengan kombinasi nasi sebagai karbohidrat, lauk hewani seperti ayam atau telur, protein nabati dari tahu/tempe, serta sayuran. Hanya saja, ia menyarankan variasi lebih banyak pada jenis sayur agar siswa tidak cepat bosan, Cilegon (28/08/2025).

Sementara itu, Jonathan Setiawan, siswa kelas XII, mengaku sangat terbantu dengan adanya MBG. Tinggal terpisah dari orang tua di Jakarta, ia biasanya harus mengeluarkan uang jajan sendiri untuk makan siang. “Sekarang lebih hemat dan tidak bingung lagi cari makan. Rasanya juga enak,” katanya.

Jonathan tidak banyak memilih soal menu, namun ia berharap jenis sayur bisa lebih bervariasi agar lebih sesuai dengan selera pelajar.

“Kalau lauknya sih enak, ayam dan tempe favorit semua orang. Cuma sayur kalau bisa divariasikan, misalnya kangkung, bayam, atau sawi,” ujarnya.

Lebih jauh, Jonathan menyampaikan harapannya agar program MBG dapat berlanjut, bukan hanya sebatas kegiatan sementara.

“Kalau bisa jangan berhenti. Biar adik-adik kelas juga merasakan manfaatnya. Malah bagus kalau bisa diperluas ke sekolah lain juga,” pungkasnya.