Ki Mamat Mulyani salah satu tokoh seni wayang kulit
Depok – suaraaksirakyat.com
Mamat Mulyani salah satu pelaku seni wayang kulit yang juga ikut berdampak akibat Pandemi Covid 2 tahun silam, kini harus rela Banting stir terjun sebagai pekerja di sebuah pemakaman umum kamboja, di daerah Sukamaju kecamatan Cilodong. Sebagai Bentuk rasa tanggung jawab terhadap keluarga nya, selepas tidak ada nya panggilan pementasan wayang kulit yang biasa tampil di museum Fatahillah,Jakarta juga panggilan di acara-acara resepsi dll. Bapak 2 orang anak yang masih terlihat bugar di usia nya yang menginjak 68 tahun ini pantang menyerah karena keadaan, wayang kulit adalah bagian dari hidup saya dan saya merasa berdosa jika tidak meneruskan apa yang jadi warisan budaya leluhur saya Tutur nya.
Ki Mamat sapaan Akrab nya ketika di temui di kediaman nya oleh awak media SAR news, Sabtu (24/2/2024) pun menyampaikan tentang Harapan dan keinginan nya sebagai Pelaku seni Khususnya wayang kulit Betawi yang bernaung di wayang kulit Sinar Pusaka,
Harapan dan keinginan saya di kota Depok pelaku seni seperti saya ( wayang kulit Betawi ) di beri ruang untuk turut andil di setiap kegiatan-kegiatan yang ada di kota Depok yang juga kota kelahiran saya agar seni wayang kulit betawi ini tetap eksis keberadaan nya.
Darah seni yang menurun dari Alm.sang ayah Dalang Amit bin Gunin yang juga berprofesi sebagai seorang Dalang pun mengalir pada diri nya. Ki Mamat adalah Generasi Ke 3 dari wayang kulit Sinar Pusaka dari seorang ayah bernama Amit dan beliau juga Cucu dari Ki Gunin Cikal Bakal nya wayang kulit Betawi sinar pusaka. Dan karena rasa kecintaan terhadap seni budaya wayang kulit Betawi Ki Mamat pun terus mengasah keterampilan nya memain kan lakon demi lakon tokoh wayang yang di bawakan nya dengan penuh penghayatan dan di sisipi dengan Candaan-candaan yang mengocok perut para penonton nya namun tidak lupa tetap ada pesan moral yang terkandung di dalam setiap cerita nya.

Di tengah Gempuran budaya asing yang masuk ke Indonesia, mau tidak mau Ki Mamat pun dalam melestarikan budaya wayang kulit pun harus aktif bermedia sosial juga, guna memperkenalkan seni wayang kulit Betawi agar tidak tergerus oleh jaman ” klo bukan kita siapa lagi yang mo nerusin sebagai anak Cucu nya ” ujar nya dengan logat Betawi kental nya.
Di akhir wawancara Ki Mamat pun berpesan, kita boleh gaul kemana aja, kita boleh tau apa aja yang lagi booming atau tenar tapi inget dari mana kita berasal, budaya kudu tetap di lestarikan sebagai identitas jati diri kita, bangsa kita ucap nya dengan mantab.
Lilie Panzer ( LP )






